Dampak Implementasi PRESTASI
Langkah-langkah yang dilakukan Muhammad Tambrin ternyata membawa perubahan nyata di lingkungan kerja Kemenag Kalimantan Selatan. Pertama, budaya integritas mulai terbentuk secara alami. Aparatur kini lebih memahami prinsip akuntabilitas dalam setiap keputusan anggaran.
“Semakin besar satker, semakin besar pula tanggung jawabnya,” ujar Tambrin mengingatkan bawahannya.
Kedua, kepercayaan masyarakat terhadap madrasah meningkat signifikan. Dengan sistem pelaporan terbuka dan audit berkala, orang tua merasa tenang menitipkan anaknya di lembaga pendidikan keagamaan.
Banyak pegawai Kanwil mengakui sekolah madrasah kini bukan hanya tempat belajar agama. Namun, juga ruang untuk menanamkan nilai integritas sejak dini.
Ketiga, koordinasi lintas lembaga berjalan semakin efektif. Kejaksaan, BPKP, PUPR, dan Kemenag bekerja dalam irama yang sama untuk memastikan proyek berjalan tepat waktu dan tepat sasaran. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa semangat antikorupsi bukan hanya jargon. Namun, sistem yang hidup dalam praktik kerja sehari-hari.
Program Lanjutan: Dari OASE ke Budaya Integritas
Tidak berhenti di situ, Tambrin terus mendorong berbagai inovasi tindak lanjut. Pada 2025, ia memperluas kolaborasi SBSN berkelanjutan dengan mitra lintas lembaga. Selain itu, ia juga mendorong replikasi Program OASE Madrasah ke seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Selatan.
Ia juga memperkuat mekanisme pengawasan internal melalui Unit Pengendalian Gratifikasi (UPG) dan memastikan seluruh layanan PTSP bebas biaya. Tak kalah penting, Muhammad Tambrin juga menjadikan Program Pengajian Senin Pagi sebagai wadah refleksi moral pegawai Kanwil.
“Nilai integritas harus lahir dari hati. Kalau tidak dihayati, ia hanya jadi slogan,” ungkapnya. Dari kegiatan sederhana itu, lahir kebiasaan baru. Aparatur yang sadar tanggung jawab dan bangga melayani dengan bersih.
Bagi Tambrin, integritas bukan proyek, tapi perjalanan panjang. “Kami berharap individu yang kami sentuh dapat menghasilkan buah. Selain itu, seluruh jajaran dapat melihat apa yang dilakukan oleh Kepala Kanwil,” katanya penuh harap.
Ia percaya, perubahan dimulai dari hal kecil dan konsisten. “Hal yang paling kita sentuh sebenarnya adalah anak-anak kita,” tambahnya, Ini menandai keyakinan bahwa pendidikan antikorupsi sejati tumbuh dari generasi muda yang diajari kejujuran sejak dini.
Program PRESTASI, bagi Muhammad Tambrin, bukan sekadar diklat, melainkan gerbang menuju perubahan sistemik. Kini, Kemenag Kalimantan Selatan dikenal sebagai contoh praktik baik dalam tata kelola anggaran dan pelayanan publik yang transparan.
“Bayangkan apabila kita semua berdaya seperti ini, hasilnya akan dahsyat. IPK kita bisa meningkat,” ujar Tambrin dengan senyum penuh optimisme.
Ia menegaskan satu hal sederhana. “Integritas itu kebiasaan, bukan slogan.” Kalimat yang mungkin terdengar singkat. Namun,menjadi dasar dari setiap langkah yang ia ambil. Hal ini untuk membuktikan bahwa birokrasi yang bersih bukanlah mimpi, melainkan kerja bersama yang lahir dari keyakinan dan keteladanan.
Bagi #KawanAksi, kisah Muhammad Tambrin bukan sekadar cerita tentang keberhasilan birokrasi. Namun, tentang keberanian menjaga kejujuran di tengah godaan kekuasaan. Ia menunjukkan bahwa integritas tidak lahir dari aturan, melainkan dari kesadaran untuk melayani dengan hati.
Dari ruang kerja Kanwil hingga madrasah di pelosok Kalimantan Selatan, nilai-nilai
PRESTASI kini menjelma jadi budaya yang hidup. Sebuah bukti bahwa perubahan besar selalu dimulai dari satu niat sederhana, yakni menolak korupsi, sekecil apa pun bentuknya.