Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperkuat upaya pendidikan antikorupsi melalui pendekatan digital yang lebih adaptif, interaktif, dan mudah diakses. Langkah ini diwujudkan melalui peluncuran E-Learning Integrity Rangers: Aksi Bersama Lawan Korupsi yang digelar di Yogyakarta pada Senin, 8 Desember 2025 lalu.
Peluncuran ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2025. Dalam sambutannya, Ketua KPK Setyo Budiyanto menegaskan bahwa e-learning merupakan terobosan strategis untuk menjangkau jutaan aparatur sipil negara (ASN) di seluruh Indonesia.
“Ini dimaksudkan untuk seluruh ASN yang jumlahnya cukup banyak, kurang lebih 5.850.000 itu. Nanti secara bertahap semuanya bisa belajar e-learning ini tentang hal-hal yang berhubungan dengan petty corruption, konflik kepentingan, integritas, dan banyak hal,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa format digital memungkinkan proses pembelajaran berlangsung lebih inklusif dan fleksibel. “Tidak harus face to face, tidak harus hadir ke ACLC. Namun, bisa memanfaatkan gadget yang dimiliki. Mungkin dia punya laptop, dia bisa buka dan belajar kapan saja,” kata Setyo.
Setyo juga menekankan bahwa program ini disiapkan bekerja sama dengan sejumlah kementerian dan instansi sebagai bagian dari tahap piloting sebelum diberlakukan secara nasional. Salah satunya dengan Lembaga Administrasi Negara (LAN).
Menurutnya, kolaborasi dengan LAN menjadi pilar penting. Hal tersebut karena lembaga ini memiliki program kepemimpinan yang selaras dengan agenda penguatan integritas birokrasi.
“Kerja sama dengan Lembaga Administrasi Negara juga sangat luar biasa. Mereka memiliki program pendidikan kepemimpinan yang berkaitan langsung dengan masalah-masalah korupsi,” katanya.
Salah satu sorotan dari E-Learning Integrity Rangers adalah penggunaan metode pembelajaran digital yang segar dan mendekati gaya belajar generasi baru ASN. Platform ini memadukan tes kepribadian ala MBTI, gamifikasi, serta modul interaktif yang menghadirkan simulasi kasus nyata terkait konflik kepentingan dan korupsi kecil di lingkungan birokrasi.
Di dalamnya, terdapat dunia fiksi edukatif bernama Nepotiland. Ini merupakan tempat dua karakter utama, Ara dan Bima memandu peserta melalui berbagai misi dilema integritas.
Setiap peserta atau #KawanAksi dibekali beragam elemen pembelajaran. Mulai dari hasil personal test untuk memahami kecenderungan perilaku, benda ajaib yang membantu mereka menyelesaikan tantangan, hingga pop-up dictionary yang memudahkan pemahaman istilah antikorupsi.
Pembelajaran ini juga dilengkapi dengan sumber referensi terintegrasi. Hal ini sebagai sistem knowledge management, serta rangkuman perjalanan yang mendokumentasikan perkembangan peserta dari waktu ke waktu.
Dengan perpaduan pendekatan psikologis, visual interaktif, dan pengalaman berbasis cerita, KPK berharap e-learning ini tidak hanya menjadi modul informasi. Namun, benar-benar mengajak peserta terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan memahami risiko korupsi secara lebih hidup dan mendalam.
Usai seremoni, acara ini turut menghadirkan penampilan kabaret Integrity Ranger yang menggambarkan dilema integritas dalam format seni panggung, membuat pesan antikorupsi lebih mudah dicerna dan menghibur.
Pertunjukan tersebut menampilkan rangkaian adegan yang dikemas secara menarik dan jenaka namun tetap menohok tentang budaya birokrasi sehari-hari sehingga penonton dapat menangkap pesan moralnya tanpa merasa digurui.
Menutup kegiatan, Setyo Budiyanto menegaskan kembali bahwa program ini merupakan bagian penting dari rangkaian Hakordia 2025 dan menjadi langkah strategis membentuk birokrasi yang lebih bersih.
Dengan dukungan berbagai pihak, KPK berharap platform ini mampu mendorong terciptanya budaya kerja yang profesional, berintegritas, dan bebas dari praktik korupsi di seluruh Indonesia. #KawanAksi bisa coba langsung e-learning tersebut dengan jelajahi petualangan seru bersama Ara & Bima dalam Integrity Rangers: Aksi Bersama Lawan Korupsi. Yuk, coba!