Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar rangkaian kegiatan Anti-Corruption Knowledge Week (ACKNOW) 2025 pada 1–3 Desember 2025 di Gedung KPK, Jakarta Selatan. Selama tiga hari, ratusan #KawanAksi mengikuti workshop, sesi pakar, hingga kelas berbagi pengetahuan yang dirancang untuk memperkuat budaya belajar dan mengelola pengetahuan di lingkungan KPK. Tentunya, topiknya masih berhubungan dengan topik korupsi.
Gelaran ini menjadi momentum penting bagi lembaga tersebut untuk menegaskan pentingnya pengetahuan atau edukasi mengenai korupsi. pengetahuan adalah fondasi inovasi, dan inovasi adalah kunci memperkuat kinerja pemberantasan korupsi.
ACKNOW 2025 berangkat dari kebutuhan organisasi untuk memastikan bahwa pengetahuan yang diperoleh pegawai. Baik melalui program beasiswa magister, tugas belajar, maupun pelatihan kepemimpinan PKA dan PKN. Tentunya, informasi dan edukasi tidak berhenti sebagai pengalaman individual.
Setiap peserta belajar memiliki kewajiban mentransfer ilmunya kepada rekan kerja lain. Hal ini agar kompetensi yang diperoleh dapat menumbuhkan budaya belajar dan meningkatkan kapasitas kelembagaan.
Kegiatan ini berlandaskan pada Peraturan Pimpinan Nomor 5 Tahun 2021 tentang Manajemen Pengetahuan serta Peraturan Pimpinan Nomor 7 Tahun 2019 mengenai kewajiban pegawai peserta tugas belajar.
Dengan tema Berani Berbagi Siap Berinovasi, ACKNOW 2025 dirancang sebagai ruang bagi seluruh insan KPK untuk bertemu dan mendiskusikan gagasan. Selain itu, juga untuk menampilkan inovasi melalui berbagai sesi pembelajaran.
Tema ini merefleksikan filosofi bahwa keberanian berbagi menjadi pijakan penting bagi lahirnya perubahan. Pengetahuan soal korupsi harus dibagikan sekarang, act now. Hal ini agar tidak hilang dan langsung memberi dampak terhadap tugas pemberantasan korupsi.
Hari pertama dibuka secara hybrid oleh Pimpinan KPK 2024–2029, Agus Joko Pramono. Pembukaan ini dengan keynote bertajuk Manajemen Pengetahuan & Pemberantasan Korupsi: Mengubah informasi menjadi aset strategis untuk integritas KPK.
Dalam pemaparannya Joko menekankan pentingnya knowledge management untuk meningkatkan efisiensi, memacu inovasi, dan memastikan keputusan diambil berdasarkan informasi yang valid dan tepat waktu. Namun begitu, ia juga mengingatkan pengetahuan perlu diiringi imajinasi tinggi untuk menciptakan keberhasilan.
“Pengetahuan diperlukan untuk bekerja dengan benar, tapi untuk berhasil kamu membutuhkan daya imajinasi yang tinggi,” jelasnya.
Sesi berikutnya diisi Muhammad Suryanto, Kepala Pusat Perencanaan Strategis KPK. Ia memaparkan arah rencana strategis KPK selama 2025–2029. Tak lupa menegaskan orientasi lembaga untuk memperkuat kelembagaan dan efektivitas penindakan.
“Melalui penguatan sistem integritas, modernisasi penegakan hukum, dan pendidikan antikorupsi yang lebih luas. Kami menargetkan peningkatan nyata terhadap indeks integritas, perilaku antikorupsi, hingga pemulihan aset negara,” ungkap Suryanto.
Beragam topik strategis turut disajikan. Beberapa di antaranya membicarakan pembangunan integritas individual oleh Dian Novianthi, mitigasi konflik kepentingan oleh Wahyu Dewantara Susilo, penguatan budaya risiko dari Widyanto Eko Nugroho, optimalisasi asset recovery oleh Anda Talga Setiawan Gultom, serta pembaruan pendekatan scientific evidence oleh Achmad Taufik H.
Suasana makin hidup pada hari kedua ketika 15 peserta terpilih dari berbagai unit kerja tampil dalam sharing session. Mereka menyajikan gagasan yang berhubungan dengan Renstra KPK dan implementasi manajemen pengetahuan.
Presentasi mulai dari integrasi data untuk pengawasan, pemanfaatan AI/ML dalam layanan LHKPN, pembentukan Tempat Uji Kompetensi Mandiri, hingga strategi penyusunan regulasi mitigasi risiko.
Narasumber eksternal turut memperkaya perspektif, salah satunya Ewaldo Reis Amaral, HR Strategy tiket.com, yang membawakan materi “Certified Hunger” yang menekankan bahwa menjadi pribadi yang “selalu lapar untuk belajar” adalah sebuah seni yang membutuhkan dua fondasi utama: kerendahan hati (humble) dan rasa ingin tahu (curiosity).
“Menjadi Certified Hunger berarti punya kerendahan hati dan rasa ingin tahu yang tak pernah padam, karena justru dengan menikmati ketidaktahuan kita bisa terus tumbuh di tengah dunia yang berubah cepat,” jelasnya.
Hari ketiga menjadi puncak kegiatan dengan paparan strategis mengenai percepatan pembangunan KPK Corporate University oleh Sandri Justiana, disusul materi orkestrasi komunikasi kelembagaan dari Yuyuk Andriati Iskak.
Direktur Ekosistem Pembelajaran ASN Lembaga Administrasi Negara, Hartoto, juga hadir membawakan topik berjudul Transformasi Pembelajaran untuk Pemberantasan Korupsi. Topik ini mempertegas pentingnya pembelajaran sebagai pilar transformasi birokrasi.
“ASN wajib terus mengembangkan kompetensi melalui pembelajaran terintegrasi, agar standar kemampuan terpenuhi dan kinerja organisasi maupun negara dapat tercapai,” ungkapnya.
Pada sesi penutup, panggung ACKNOW menjadi saksi apresiasi melalui penganugerahan Brain Awards. Ini merupakan penghargaan bagi Insan KPK yang berani berinovasi dan mampu menerapkan manajemen pengetahuan untuk menghasilkan perubahan positif.
Brain Awards, akronim dari BRAve to INnovate, menjadi simbol penghormatan sekaligus pengingat bahwa proses berpikir yang dikelola dengan baik akan memberi manfaat tidak hanya untuk individu, tetapi bagi organisasi dan publik luas. Melalui penghargaan ini, KPK mendorong pegawai agar terus bereksperimen, mencari terobosan, dan berkontribusi pada kemajuan lembaga.
“ACKNOW 2025 tidak hanya menjadi ruang berbagi, tetapi juga pengakuan atas usaha setiap pegawai untuk terus belajar,” demikian pesan penyelenggara.
Dengan format hybrid, rangkaian sesi pakar, galeri pengetahuan, dan panggung berbagi gagasan, kegiatan ini memperkuat langkah KPK membangun organisasi pembelajar.
Harapannya, budaya berbagi pengetahuan yang dimulai di sini akan berdampak langsung pada peningkatan kinerja, kualitas layanan publik, serta efektivitas pemberantasan korupsi. Untuk lebih memahami tentang korupsi dan jenis-jenisnya, #KawanAksi dapat mengikuti program e-learning Pusat Edukasi Antikorupsi KPK.