Mengutip hasil survei MOFIN (Ministry of Finance Organizational Fitness Index) oleh Kemenkeu, menurut dia, masih terdapat saja tindakan yang belum mencerminkan nilai-nilai integritas. Misalnya, atasan yang tidak menegur bawahannya atau sesama rekan kerja tiak saling mengingatkan ketika ada hal menyimpang.
Oleh karenanya, ia menekankan salah satu pedoman yang diterapkan di Diklat Kepemimpinan dan Manajerial yaitu memiliki sikap konsisten.
"Menjadi penyuluh antikorupsi itu tidak gampang, ini memang bukanlah suatu karier, tapi kalau saya kaitkan dengan fungsi kita yaitu salah satu dari kompetensi manajerial. Dalam manajerial itu salah satu yang paling relevan terkait dengan integritas," ujarnya.
Maisroh mengatakan menjadi pribadi berintegritas memang tidak bisa seetiap waktu karena memang tidak ada pribadi yang sempurna. Oleh karenanya, pelatihan ini adalah upaya mengingatkan kembali sebagai penyelenggara negara harus merawat integritas secara konsisten.
"Di Kementerian Keuangan ada Duta Budaya yang menyasar generasi Z. Jadi, nantinya Duta Budaya dan Penyuluh Antikorupsi bisa berkolaborasi merawat integritas di Kemenkeu. Duta Budaya bisa membantu menyuluh antikorupsi kepada teman-teman Gen Z," ujarnya.
Sementara itu Kasatgas 2 Dit Diklat Antikorupsi KPK M. Indra Furqon menegaskan selain sebagai wasilah atau sarana untuk merawat integritas, pelatihan ini juga mempersiapkan peserta sertifikasi penyuluh antikorupsi.
"Karena sebelum menjadi penyuluh antikorupsi, penting butuh persiapan. Karena enggak mungkin kita ngomong antikorupsi, ngomong integritas, tapi kita belum mengubah diri kita dulu--mustahil itu. Kan enggak ada yang mau dengar," ujarnya.
Furqon mengingatkan agar setelah diklat, peserta mengikuti sertifikasi Paksi. Setelah dinyatakan kompeten, para paksi diharapkan bergabung dengan Forum Dana Rakca.
"Karena di forum ini, bapak/ibu berkumpul dengan orang-orang yang punya visi yang punya semangat yang sama, yang punya kesadaran yang sama," katanya.[]