Konten antikorupsi tidak mesti mengambil tema-tema yang berat atau sulit. Para konten kreator, kata Amir, bisa mengambil tema-tema keseharian yang sesuai dengan sembilan nilai integritas, yaitu jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil.
"Tidak usah dipaksakan dengan tema yang berat, cari angle lain yang asyik, misalnya tentang kepedulian, nilai kejujuran atau tanggung jawab. Dari sembilan nilai integritas tersebut, cari yang relate dengan keseharian," kata Amir.
Selain itu, Amir mengimbau agar para konten kreator juga menjadi contoh bagi para follower-nya dengan memberikan teladan yang baik. "Dimulai dari hal kecil, dimulai dari kita sendiri. Menjadi role model lebih efektif dari pada kata-kata," ujar Amir.
Sandri Justiana, Kasatgas Manajemen Pengetahuan dan Pembelajaran (Matpel) ACLC, mengatakan korupsi tidak hanya menggelapkan uang negara atau menerima suap dalam jumlah besar. Banyak perilaku koruptif terjadi di keseharian, kadang tidak kita sadari, yang bisa menjadi konten bagi para influencer. Misalnya tentang korupsi waktu yang banyak dilakukan pegawai di perkantoran.
“Korupsi itu artinya kita melanggar kesepakatan, komitmen dan aturan yang sudah disepakati. Pada umumnya, hal ini tak patut dilakukan oleh kita,” ujar Sandri.