Mengenal Pelatihan Game-Based Learning
Game-Based Learning (GBL) merupakan metode pembelajaran yang memanfaatkan permainan sebagai media utama untuk menanamkan nilai, pemahaman, dan kesadaran akan pentingnya kualitas layanan. Permainannya bisa bermacam-macam, mulai dari permainan kartu, papan, hingga permainan digital atau aktivitas kelompok.
Kasatgas II Direktorat Pendidikan dan Pelatihan Antikorupsi, Sandri Justiana, menjelaskan bahwa metode GBL membantu peserta pelatihan menyelami isu layanan publik secara lebih nyata dan bermakna.
“Permainan ini tidak sekadar seru, tetapi dirancang untuk membangun pemahaman, nilai, dan refleksi. Di pelatihan ini, pendekatan tersebut digunakan untuk menyelami tantangan layanan publik secara lebih mendalam,” ujar Sandri.
Dalam pelatihan yang difasilitasi oleh Eko Nugroho dan Tim Kummara ini, peserta mengikuti dua sesi utama pembelajaran berbasis permainan yang dikembangkan secara kontekstual untuk kebutuhan internal KPK.
Sesi pertama bertajuk “Mau Dibantu?” mengajak peserta untuk memahami pentingnya memberikan layanan publik yang tidak hanya efisien secara prosedural, tetapi juga empatik dan berorientasi pada kepuasan penerima layanan.
Permainan interaktif ini dirancang oleh ACLC KPK bersama Kummara dan mengajak peserta merasakan langsung berbagai situasi layanan publik, mengalami dilema, serta mendiskusikan pilihan-pilihan yang diambil.
“Dalam prosesnya, peserta belajar tentang kontribusi kualitas layanan terhadap reputasi kelembagaan, pentingnya prinsip customer handling, penerapan Service Level Agreement (SLA), hingga penguatan nilai 5S: Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun,” lanjut Sandri.
Sesi berikutnya menghadirkan Cascade Interactive Case Study, sebuah simulasi layanan publik berbasis realita yang diangkat dari kasus di lingkungan KPK.
Melalui sesi ini, peserta memainkan peran, menganalisis konteks, dan bekerja sama antarunit kerja untuk menyelesaikan tantangan layanan yang kompleks. Peserta tidak hanya dituntut untuk menyusun solusi, tetapi juga melakukan refleksi atas nilai-nilai yang diterapkan dalam memberikan pelayanan.
“Simulasi ini memperkuat keterampilan berpikir kritis, komunikasi strategis, dan kolaborasi antarunit kerja sebagai bagian dari pelayanan publik yang menyeluruh,” pungkas Sandri.
Pelatihan ini juga memperkaya peserta dengan pemaparan dari Iin Supriyatin, praktisi pelayanan publik, yang membawakan materi tentang “Ultimate Service Culture” dan penguatan nilai-nilai pelayanan yang membantu peserta menempatkan pelayanan sebagai cermin integritas KPK.
Di akhir pelatihan, peserta menyusun rencana aksi implementatif yang akan diterapkan di unit kerja masing-masing.
Pelatihan Game-Based Learning ini menjadi salah satu bentuk transformasi budaya layanan publik KPK yang lebih prima, profesional, dan bebas dari praktik koruptif—selaras dengan semangat KPK untuk melayani dengan semangat transparansi