“Penyuluhan harus dimulai dari anak didik karena ke depan merekalah yang akan mengatur negeri ini. Sejak dini (penyuluhan ini) harus diterapkan dulu,” ujar Master Nancy mengulang pesan sambutan Pj Gubernur.
Bahkan, Pj Gubernur juga menyarankan tiga kelompok sasaran yang perlu mendapatkan materi antikorupsi, yaitu di SMA Taruna Kasuari Nusantara Papua Barat, SMA N 1 Manokwari, dan seluruh kepala dinas (OPD).
Di Manokwari, terdapat tiga SMA favorit, selain kedua tersebut, satu lagi adalah SMA N 2. Banyak orangtua berebut ingin menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah tersebut setiap awal tahun ajaran baru. Padahal, kuota penerimaan sekolah sudah diabatasi. Di sinilah, kata Master Nancy, problem muncul.
“Ada yang memanfaatkan peluang lewat ‘jalur khusus’ yang tidak semestinya, perlakuan-perlakuan dinas atau campur tangan pihak luar, sehingga timbul suap dan gratifikasi,” ujarnya.
“Itulah kenapa gubernur meminta pendidikan antikorupsi perlu dilakukan di sekolah.”
Dalam waktu dekat, Forum Paksi Pabar akan melakukan rapat untuk membahas rencana kegiatan ke depan. “Kami akan melakukan rapat-rapat program kerja sesuai kebutuhan di daerah,” ujar Ketua Forum Paksi Pabar Master Elia Ramandey.
Tantangan Paksi
Tak jauh berbeda dengan para Paksi di daerah lain, Master Nancy sering dicurigai sebagai “orang KPK”. Ia berkali-kali menjelaskan bahwa dirinya adalah penyuluh yang bertugas memberikan edukasi antikorupsi.
Master Nancy menilai anggapan itu sebagai motivasi dirinya untuk tetap konsisten sebagai penyuluh. Semangat auditor Inspektorat Provinsi Papua Barat ini terlihat dari gagasan dirinya mengumpulkan para Paksi melalui Grup WhatsApp untuk membuat forum Paksi seperti sekarang.
Tantangan lain yang sering dihadapi dirinya sebagai auditor ialah gratifikasi. Ia kerap tiba-tiba diberi “oleh-oleh” khas daerah tersebut ketika sedang bertugas. Namun, ia selalu memberikan penjelasan mengapa dirinya menolak dan oleh-oleh tersebut termasuk kategori gratifikasi.
“Saya beberapa kali ngomong mereka: ‘Bapak enggak usah kasih, saya bukan menolak berkat, kami sudah dibiayai negara’. Bahkan, saya sampai ngomong: ‘Kalau bapak enggak kenal saya, bapak ngasih, enggak? Karena bapak kenal saya, maka bapak ngasih karena jabatan saya.’ Akhirnya, ia meminta maaf,” cerita Master Nancy.[]