AKSI / BERSAMA KLASIK, PAKSI BERKARYA MENCIPTA BUKU ANTIKORUPSI
Penyuluh Antikorupsi (Paksi) yang menjadikan kolaborasi sebagai napas penyebaran edukasi antikorupsi kembali membentuk sebuah forum. Kali ini, forum yang dibentuk akan menjadi wadah para Paksi untuk berkarya mencipta buku antikorupsi untuk semua kalangan.
Diberi nama Klasik yang merupakan akronim dari Komunitas Literasi Antikorupsi, forum ini dibentuk secara resmi pada 5 September 2022 lalu. Dengan anggota awal sebanyak tujuh orang dari berbagai daerah, Klasik hadir sebagai wadah Paksi yang tertarik pada bidang literasi antikorupsi.
"Komunitas ini lahir berawal dari keinginan berkumpul para Penyuluh Antikorupsi yang menaruh minat dalam bidang literasi antikorupsi," kata Iin Purwanti, Paksi Jawa Timur, Ketua Klasik.
Forum berlogo pena ini, kata Iin, hadir sebagai jawaban dari semakin minimnya aksi penyuluhan antikorupsi secara tatap muka karena pandemi COVID-19. Dia mengatakan, buku dan bahan bacaan antikorupsi menjadi salah satu solusi menyebarluaskan pengajaran antikorupsi di masa seperti ini.
Di antara program yang akan dijalankan oleh Klasik adalah pengembangan kompetensi menulis yang diadakan setiap 3 bulan sekali. Di antara yang menjadi fokusnya adalah penulisan cerita anak, artikel media, dan fiksi.
"Untuk menyebarluaskan aksi baik melalui media cetak, maupun elektronik, media sosial, dan yang lainnya, perlu skill untuk menulis dan budaya literasi, dan ini yang sangat dibutuhkan komunitas untuk bergerak bersama," kata Iin.
Selain itu, mereka juga akan melakukan bedah buku dan artikel populer secara rutin. Salah program besarnya adalah penerbitan buku karya anggota Klasik. Dalam setahun, mereka menargetkan dua kali penerbitan buku. Tahun ini, Iin mengatakan, Klasik berencana menerbitkan buku cerita anak-anak antikorupsi.
"Karena sulit sekali mencari cerita anak berintegritas. Bulan depan akan ada workshop penulisan cerita anak, di akhir sesinya ada tugas membuat cerita. Dari situlah akan terkumpul cerita anak dari anggota Klasik," ujar Iin.
Johana Lanjar Wibowo, Ketua II Klasik, optimistis keberadaan Klasik disambut baik oleh para Paksi. Pasalnya, kata dia, Paksi memiliki banyak potensi yang bisa digali, salah satunya di bidang kepenulisan.
"Dari ribuan Paksi, banyak yang memiliki latar belakang akademisi seperti peneliti, guru, dosen, atau widyaiswara. Tentunya mereka telah banyak menghasilkan karya tulisan nonfiksi," kata Lanjar, Paksi asal Jakarta.
Kehadiran Klasik semakin meningkatkan jumlah komunitas Paksi yang saat ini sudah lebih dari 40 forum di seluruh Indonesia. Berkolaborasi dengan berbagai macam cara, para Paksi memiliki tujuan yang sama, yaitu menanamkan nilai-nilai integritas kepada masyarakat.
Sandri Justiana, Penasihat Klasik sekaligus Kepala Satuan Tugas Manajemen Pengetahuan dan Pembelajaran KPK, berharap ke depannya Klasik dapat menghasilkan karya-karya yang memperkaya materi literasi antikorupsi di Indonesia. Literasi, kata Sandri, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk kepribadian dan pola pikir seseorang.
"Di masa lalu, kita melihat banyak buku-buku yang mempengaruhi peradaban manusia, memberikan khazanah baru dalam ilmu pengetahuan dunia. Kami berharap Klasik mendorong kembali minat baca masyarakat terhadap literasi-literasi yang berdampak positif. Semoga karya-karya yang muncul dari Klasik dapat memberikan sumbangsih bagi perbaikan masa depan Indonesia," kata Sandri.
Klasik masih membuka pendaftaran untuk Paksi yang ingin bergabung. Syaratnya adalah pendaftar haruslah Paksi yang tersertifikasi aktif, memiliki semangat tinggi dan berintegritas, aktif berkegiatan literasi antikorupsi, dan berkomitmen mengembangkan dan berperan aktif di komunitas.
"Klasik bisa berkembang sejalan dengan perkembangan Paksi di Indonesia. Sejarah bisa melihat bagaimana langkah perjuangan Paksi dalam pencegahan korupsi melalui jejak literasi," kata Iin.
"Bagi kawan-kawan Paksi yang senang menulis dan membaca, mari kita jadikan hobi kita ini sebagai ladang amal dengan menyebarluaskan ilmu-ilmu dalam bentuk publikasi buku. Percayalah, ilmu pengetahuan dan wawasan yang kita ikat dalam bentuk buku, akan abadi dan menjadi warisan yang baik bagi anak-cucu kelak," ujar Johana melanjutkan.