AKSI / CIBIRAN TAK PADAMKAN SEMANGAT ARIS SUPRIYANTO SUARAKAN ANTIKORUPSI
Menjadi seorang Penyuluh Antikorupsi (Paksi) mesti tegar dan tidak mudah patah arang. Karena jalan penyuluhan tidak mudah, penentangan pasti berdatangan dari sana-sini. Seperti yang dialami oleh Paksi Aris Supriyanto di Lampung yang dicemooh oleh rekan-rekannya sendiri setelah mengajak untuk berintegritas.
Berbincang dengan ACLC, Rabu (15/6), Aris mengakui banyak tantangan ketika mengajak menghindari korupsi, terutama soal gratifikasi. Ketika awal menjadi Paksi pada 2018, ASN di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Lampung ini sudah kenyang menerima cemoohan dan hujatan dari kawan-kawannya sendiri.
"Kita dianggap sok benar sendiri, mereka tidak mau diatur, saya dicemooh dan dicibir. Bahkan ketika awal menjadi Paksi, saya tidak mendapatkan jam pelajaran, digeser ke tempat lain, karena dianggap terlalu 'brutal' dalam menyampaikan antikorupsi," kata pria 53 tahun ini.
Aris yang sebelumnya berkiprah 13 tahun di Inspektorat Lampung mengatakan, banyak ASN di tempatnya yang belum siap meninggalkan praktik-praktik korupsi kecil-kecilan, seperti menerima gratifikasi.
Mereka menganggap sistem yang ada saat ini tidak memungkinkan untuk 100 persen berubah bersih dari korupsi. Dia menilai, itu yang membuat mereka berat menerima ajakan darinya.
"Soal materi gratifikasi mereka sudah mengerti betul, tapi meninggalkan perilaku itu mereka mengaku susah. Kata mereka ini sudah jadi budaya dan kebiasaan. Itu tantangannya," kata Aris. "Tapi tantangan ini malah membuat saya makin bersemangat, bukannya jadi kendur."