AKSI / DARI DESA KE DESA, PAKSI DI TALAUD GENCARKAN SOSIALISASI ANTIKORUPSI
Sosialisasi antikorupsi terus digencarkan di seluruh wilayah Indonesia tanpa kecuali, dari ujung ke ujung negeri ini. Di kepulauan Talaud yang terletak paling utara Indonesia, para Penyuluh Antikorupsi (Paksi) bergerak dari desa ke desa memberikan pemahaman soal integritas dan budaya antikorupsi.
Ada 6 Paksi yang bertugas di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Salah satu program sosialisasi yang tengah mereka gencarkan saat ini adalah soal pengelolaan dana desa dan program desa antikorupsi. Salah satu sosialisasi dilakukan di Desa Bengel, Kecamatan Beo, pada 14 Maret lalu, seperti dituturkan oleh Paksi Fernando Pandengkalu.
Fernando mengatakan tema itu dipilih karena di desa Bengel sempat muncul laporan indikasi penyalahgunaan keuangan dana desa. Semua perangkat Desa Bengel yang ada saat ini baru saja dilantik, termasuk Kepala Desa, sehingga tepat jika sedari awal mereka diberi edukasi soal pentingnya budaya antikorupsi.
"Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan edukasi kepada Kepala Desa dan Perangkat Desa sebagai Pejabat Pengelola Keuangan Desa agar mengerti dan memahami bagaimana cara pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan desa yang bebas dari korupsi," kata Fernando dalam perbincangan dengan ACLC pekan ini.
Dalam sosialisasi tersebut, para Paksi menyampaikan beberapa materi yang penting diketahui. Materi-materi tersebut di antaranya adalah dampak masif korupsi pada pengelolaan dana desa, program desa antikorupsi, pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan program pemberdayaan desa dan pembangunan desa yang bebas dari korupsi, dan pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang efektif, efisien, akuntabel dan transparan.
"Dengan pengelolaan yang baik, maka manfaat atas dana desa akan benar-benar dirasakan oleh masyarakat sehingga tercipta suasana kondusif yang secara otomatis menimbulkan kepercayaan dan keyakinan bahwa penyelenggara pemerintahan desa benar-benar bebas dari korupsi," kata Fernando.
Fernando mengatakan respons para peserta penyuluhan sangat baik. Bahkan, mereka berharap agar penyuluhan dan sosialisasi ini dapat dilakukan berapa kali dalam setahun sebagai pengingat bagi kepala desa, perangkat desa dan masyarakat.
Kasus Korupsi yang Memalukan Talaud
Terletak paling utara di Indonesia dan berbatasan dengan Filipina, wilayah Talaud merupakan daerah bahari dengan luas laut lebih dari 37 ribu km² dan daratan lebih dari 1.200 km². Terdapat tiga pulau utama di Kabupaten Kepulauan Talaud, yaitu Pulau Karakelang, Pulau Salibabu, dan Pulau Kabaruan.
Wilayah dengan jumlah penduduk 109.150 jiwa ini sempat mencuat namanya akibat korupsi yang dilakukan Mantan Bupati Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip. Pada Januari lalu, Sri divonis 4 tahun penjara karena menerima gratifikasi senilai Rp 9,5 miliar terkait proyek infrastruktur Talaud pada 2014-2017.
Ini adalah kasus kedua yang membuat Sri dipenjara. Sebelumnya pada April 2019, dia divonis penjara dua tahun terkait suap menyuap revitalisasi pasar di wilayahnya. Sebagai warga Talaud, Fernando mengaku malu dengan kasus yang membuat nama kabupatennya tercoreng itu.
"Mungkin karena Talaud berada di ujung utara, dia (Sri) merasa tindakannya tidak teridentifikasi. Kejadian itu membuat kami warga Talaud malu," kata pegawai inspektorat Kabupaten Talaud ini.
Fernando yang menjadi Paksi sejak Agustus 2021 berharap ke depannya, para Paksi di Talaud memiliki kesempatan juga untuk memperluas sosialisasi hingga ke pejabat tinggi Kabupaten, tidak hanya desa, agar kasus serupa tidak terulang lagi.
Namun untuk saat ini, Fernando sudah merasa gembira karena kegiatannya mendapatkan respons positif dari masyarakat. Bahkan, Kepala Desa Bengel yang mendapat penyuluhan dari timnya menyatakan ingin juga menjadi Paksi yang tersertifikasi LSP KPK.
"Ada tercipta perasaan puas dan merasa bahwa kegiatan penyuluhan ini berdampak baik dan bermanfaat pada keterpanggilan seorang pejabat pengelola keuangan desa yang bersedia penjadi Paksi," kata Fernando.
Permintaan penyuluhan dan sosialisasi dari desa-desa di Talaud juga mulai berdatangan untuk para Paksi. Tapi tidak semuanya bisa dipenuhi oleh Fernando dan kawan-kawan karena keterbatasan dana dan letak geografis yang terpisah laut. Selain desa, Fernando juga akan memulai melakukan sosialisasi nilai integritas ke anak-anak sekolah.
"Untuk anak-anak kami ingin menanamkan sikap antikorupsi dan integritas sejak dini," pungkas pria 37 tahun ini.