AKSI / KISAH PAKSI AISTA, PAHAM INTEGRITAS SETELAH 'TAUBAT' DARI MENCONTEK
Kesadaran seseorang akan nilai-nilai integritas muncul dengan cara yang berbeda. Ada yang melalui pengajaran di keluarga, instansi, atau melalui seminar profesi. Tapi Aista Wisnu Putra berbeda, dia mendapatkan pelajaran soal integritas ketika menyatakan 'bertaubat' dari mencontek.
Kepada ACLC pekan ini, Penyuluh Antikorupsi (Paksi) dari Semarang, Jawa Tengah, ini mengaku titik baliknya mengenal integritas terjadi saat SMA. Saat Ujian Nasional kelas 3 SMA itu, dia berjanji untuk tidak mencontek lagi setelah mendengar nasihat gurunya.
"Ketika itu guru sosiologi saya mengatakan mencontek itu haram. Nilai yang didapat dari mencontek juga haram. Daftar kuliah dengan nilai itu haram. Lantas bagaimana dengan gaji dari pekerjaan yang didapat dari nilai tersebut? Pasti haram juga," kata Aista.
Sikap itu dia pegang teguh walau akhirnya Aista mendapatkan nilai 4,5 di mata pelajaran matematika dalam ujian tersebut. Tidak mengapa, asalkan dia tidak mencontek dan jujur dalam mengerjakan ujian. Sejak saat itu, Aista tidak pernah mencontek lagi, bahkan ketika duduk di bangku perkuliahan.
Nilai-nilai integritas terus dipegang Aista hingga lulus. Hal inilah yang kemudian mendorongnya untuk menularkan nilai-nilai luhur tersebut. Lulus kuliah, dia bergabung dengan Institute for Integrity (IFI) untuk mengajar materi-materi antikorupsi. Pada 2018, dia bergabung menjadi Paksi jalur pengalaman.
"Dari dulu saya nyaman mengajar soal antikorupsi, ini sebuah panggilan hati. Ketika dilakukan dengan hati, walau tidak mendapat gaji, maka akan menyenangkan," kata anggota Komunitas Paksi Jateng (Kompak Jateng) ini.
Menjadi Dosen Antikorupsi
Menjadi Paksi ternyata membuat kesempatan dan jaringan Aista terbuka lebar. Dia ditawari menjadi dosen di Universitas Nasional Karangturi, Semarang, tempatnya mengajar hingga saat ini. Di kampus ini dia mengajar Pendidikan Budaya Antikorupsi (PBAK). Hal yang selalu ditekankannya kepada para mahasiswa adalah kejujuran, mulai dari tidak mencontek.
"Ketika mahasiswa menjadi orang baik yang berintegritas, maka pengaruhnya akan besar bagi masyarakat Indonesia. Tapi jika mereka buruk, menjadi pintar secara akademik tapi tidak pintar secara moral, itu malah berbahaya. Banyak kasus korupsi melibatkan orang-orang yang pintar," ujar pria 28 tahun ini.
Selain mengajar di universitas, Aista juga guru di Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu, Tembalang, Semarang. Di ponpes ini, dia menanamkan nilai-nilai integritas yang memiliki kaitan dengan agama.
Dia juga mendirikan Anticorruption Youth Community (ACYC) untuk menaungi para mahasiswa antikorupsi. Dengan anggota sekitar 15 orang, ACYC aktif menggelar acara dialog dan sharing soal antikorupsi. Salah satu kegiatan ACYC yang baru saja dilakukan adalah sharing session melalui live Instagram bersama Paksi Isa Thoriq. Hal yang membanggakan Aista, dari ACYC ini sudah lahir empat orang Paksi, tiga di antaranya baru lulus kuliah, satu bahkan masih mahasiswa.
"Menjadi Paksi itu panggilan jiwa. Kita bukan pegawai KPK, bukan pegawai negara. Tapi Paksi semacam tugas tambahan dengan gaji berupa pahala kebaikan. Gajinya tidak dibayarkan sekarang, tapi di akhirat kelak," kata Aista.