Tumbuhkan budaya integritas
Oleh karenanya, penting bagi kita semua untuk menumbuhkan diri menjadi pribadi yang berintegritas. Integritas adalah fondasi diri untuk mencegah dari perbuatan korupsi.
Setidaknya ada empat hal untuk menumbuhkan budaya antikorupsi, pertama, semangat perlawanan itu harus ada. Mari bersama-sama mengendalikan diri, menghindarkan diri serta mengajak orang lain untuk tidak korupsi.
Kedua, membangun kesadaran bahaya korupsi. Kita sadar dulu bahwa kita itu adalah guru—digugu dan ditiru (dipercayai dan diteladani). Kita sebagai guru ini tentunya merujuk pada filsafat pendidika dari Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara: Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.
Sebagai guru penggerak, misalnya, mari kita menuntun perkembangan anak-anak, iswa-siswa kita, sesuai dengan kodrat zaman. Hari ini zamannya internet, ya. Jangan melarang anak-anak untuk membawa HP. Boleh membawa HP, tapi sesuai peruntukannya—untuk pembelajaran saja.
Selanjutnya, ketiga, kita membangun sikap antikorupsi. Minimal, kita menjadi teladan. Kita menerapkan sembilan nilai integritas. Bukan hanya diucapkan saja, tapi harus diaktualisasikan dalam perilaku kita. Jadi, nilai-nilai integritas ini perlu kita terapkan, kita aktualisasikan—inilah poin yang keempat.
Walau lingkungan kita mungkin sudah “tercemar”, lebih baik kita sadar dulu, lalu pelan-pelan menyadarkan orang lain di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, dengan cara baik-baik. Insyaallah, nanti akan ada yang mengikuti.
Kita belajar dari mereka yang berintegritas. Contohnya, Mujenih, petugas kebersihan KRL yang mengembalikan uang Rp500 juta. Ini luar biasa. Jarang sekali ditemukan orang seperti ini. Kita belajar dari sosok ini. Walau mereka terlihat sederhana, integritas mereka luar biasa.
Maka, kita harus selalu tanamkan sembilan nilai integritas—Jumat Bersepeda KK (jujur, mandiri, tanggung jawab, berani, sederhana, peduli, disiplin, adil, dan kerja keras). Kita refleksikan, apakah sembilan nilai integritas ini sudah kita jalankan?
Mari kita terapkan nilai-nilai itu dengan tiga M yaitu mulai dari hal sederhana, mulai dari diri kita, dan mulai dari sekarang. Jangan menunggu nanti. Selagi Allah subhanahu wata’ala masih memberi umur, lakukan yang terbaik sekarang juga.
Kita bisa tebarkan semangat dan teladan dari orang-orang berintegritas seperti Baharuddin Lopa, Hoegeng, Artidjo Alkostar. Mereka ini adalah pelajaran hidup.
Jadi, beranilah menjadi benar meskipun sendirian, kata Lopa. Atau, kata Bung Hatta, tidak ada harta pusaka yang lebih berharga selain kejujuran.[]
*Tulisan disarikan dari materi yang disampaikan penulis dalam webinar bertajuk “Guru Pahlawanku: Integritasku Komitmenku” yang memperingati Hari Guru pada Rabu (27 November 2024). Kegiatan ini diadakan oleh Forum Guru dan Tenaga Kependidikan Berintegritas dan Antikorupsi bagian dari Road to Hakordia 2024.